“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak menemukan
guru yang tepat untuk mengembangkan potensinya”. Kira-kira begitulah
ucapkan Yohanes Surya. Beliau telah berhasil mengantarkan siswa-siswa
beprestasi secara internasional. Begitu pula ucapan Ibrahim Bafadal, “
tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya guru yang tidak bisa
mendidik. Tidak ada guru yang tidak bisa mendidik, yang ada hanya kepala
sekolah yang tidak memimpin”. Saya tulis kembali ungkapan tersebut
karena saya menpunyai pemahaman bahwa urusan pokok dari pendidikan
adalah profesionalitas guru.Tentunya, secara konseptual guru
profesionalitas menpunyai banyak karakteristik. Bagi orang tua siswa
rasanya cukup untuk mengetahui fenomenanya. Pada tulisan sebelumnya,
saya telah mengutip hasil survey litbang kompas mendapat gambaran
mengenai guru bertipe mediocre dengan kemampuan pas-pasan yang
cenderung satu arah dan belum kreatif ”menerjemahkan” KTSP (Kompas.com, 7
Mei 2013). Pada tulisan itu juga, saya menyebutnya sebagai burnout
sebuah keadaan kelelahan mental dengan ciri kedap (inersia)
terhadap perubahan atau sebutlah guru “gosong”. Fenomena mediocre atau
guru dengan kemampuan biasa biasa saja itu dapat dipaparkan seperti
dibawah ini.
Info Terkini
Selamat Datang
Minggu, 25 Agustus 2013
Kamis, 13 Juni 2013
UNTUK KREATIF BUTUH PENGORBANAN
Banyak orang mengira, jiwa kreatif itu terlahir dari alam. Artinya,
seseorang itu menjadi kreatif atau tidak sudah ditetapkan sejak dalam
kandungan. Benarkah begitu? Sebagaimana orang punya bakat menyanyi lalu
jadi penyanyi atau orang yang sudah berbakat melukis lalu ia jadi
pelukis?
Kenyataannya, kreativitas, profesi, dan juga bakat tidaklah bisa
dipandang secara absolut. Semua orang sejak ia di dalam kandungan sudah
memiliki berbagai potensi. Lagi-lagi, lingkungan, orang-orang terdekat,
dan momentum mengambil alih pemicu untuk tumbuh dan mekarnya beragam
potensi itu. Berbicara tentang kreativitas, maka saya menyimpulkan, itu
pun sudah dimiliki oleh manusia sejak lahir, siapapun orang tuanya.
Namun membuat daya kreatif mereka terasah dan bersinar cemerlang
membutuhkan sentuhan pengorbanan orang tuanya.
Jumat, 10 Mei 2013
Husein Mutahar
Bendera
pusaka untuk pertama kali berkibar pada Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta,
begitulah secara resmi bendera kebangsaan merah putih dikibarkan.
Pada
tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda
semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan
menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera
pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno.
Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.
Pada
tanggal 4 Januari 1946, karena aksi teror yang dilakukan Belanda
semakin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan
menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta. Bendera
pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno.
Selanjutnya, ibukota dipindahkan ke Yogyakarta.
Tanggal
19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua. Presiden,
wakil presiden dan beberapa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan
Belanda. Namun, pada saat-saat genting dimana Istana Presiden Gedung
Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda, Soekarno sempat memanggil salah
satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugaskan
untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka
ini merupakan salah satu bagian "heroik" dari sejarah tetap berkibarnya
Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soekarno berucap
kepada Mutahar:
"Apa
yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku
memberikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku
memerintahkan kepadamu untuk menjaga bendera kita dengan nyawamu. Ini
tidak boleh jatuh ke tangan musuh.
Sabtu, 27 April 2013
SEJARAH HARI PENDIDIKAN NASIONAL
TAMAN SISWA DI YOGYAKARTA
Hari Pendidikan Nasional selalu jatuh setiap tanggal 2 Mei tiap
tahunnya. Namun apakah Anda tahu sejarahnya mengapa tanggal ini dipilih ?
Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara ,
beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di
Indonesia,berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu lembaga
pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk
bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun
orang-orang Belanda.
Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis , banyak
tulisannya yang sangat tajam terutama menyindir Belanda , salah satunya
adalah Als Ik Eens nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda )
yang salah satu petikannya adalah sebagai
“Sekiranya aku seorang
Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di
negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan
jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk
menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka
dan sekarang kita garuk pula kantongnya.
Ayo teruskan penghinaan
lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung
perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa
bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia
sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun“.
Karena tulisannya
tersebut Ki Hajar Dewantara dibuang ke pulau Bangka namun dipindahkan ke
Belanda karena pembelaan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo ,
sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara membangun Nation
aal
Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3
Juli 1922 yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional.
Ki
Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal pada 28 April 1958 dan Pemerintah
menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun
1959 sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya , oleh
karena itu mari kita menghayati Hari Pendidikan Nasional ini dengan
sebaik-baiknya
------------------------------ ----------------------------
Langganan:
Postingan (Atom)


